Kopi?
Hitam, berampas, pahit, kesan ‘tua’, pokoknya gak enak.
Begitulah deskripsi saya dulu pada secangkir kopi. Minum kopi
berarti sama dengan tua karena kopi biasanya dinikmati oleh ‘embah-embah’. Atau, minum kopi berarti
sama dengan ada hal yang harus saya kerjakan (baca: tugas) sampai larut malam
hingga saya harus menenggak secangkir kopi demi mata bisa melek sampai pagi.
Tapi, sekarang berbeda. Paradigma saya tentang kopi lambat
laun bergeser. Sekarang kopi tak harus berarti hitam, berampas, pahit, kesan ‘tua’
dan gak enak. Deskripsi saya tentang
minuman ini sekarang berubah. Kopi itu modern dan memberi saya kesan maskulin. Bukan
gaya hidup tinggi (karena kopi yang saya nikmati bukan kopi-kopi yang
menawarkan merk dan tempat nongkrong saja) tapi menikmati hidup lebih tinggi
dengan satu cangkir kopi. Singkatnya sejuta kata untuk satu cangkir kopi.
Ada dua cara menikmati minuman yang sekarang menjadi salah
satu simbol kehidupan kota ini. Pertama, diminum selagi panas namun resikonya
akan cepat habis. Atau yang kedua, dinikmati pelan-pelan namun resikonya keburu
dingin dan gak enak. See? Mana cara mu? J
-faradika-