Kereta-Kereta Ku
#penantian
“apa selama ini kau tahu?”
“apa selama 5 tahun belakangan ini kau pernah menyadarinya?”
Lima tahun, bukankah waktu yang lama untuk sebuah penantian? Bukankah ini layaknya seperti sebuah perjalanan hidup? Disaat kawan-kawan ku sudah mulai menemukan kereta mereka, aku justru masih duduk sendiri menanti sepi di stasiun ini. Aku sadar, banyak dari mereka menaiki kereta yang salah, namun mengapa mereka mesti memaksa? Sedang aku? Mengapa justru memilih menanti kereta yang tepat itu? Meski tak tahu seberapa pasti arti ‘tepat’ itu sendiri.
Kereta-kereta
Banyak kereta yang berhenti di stasiun itu. Mengapa tak ada satupun kereta yang ingin ku naiki? bukankah aku bisa seperti kawan-kawan ku yang gampang saja naik sembarang kereta meski tahu itu salah? Tapi mengapa kakiku tak juga bergerak ke gerbong? Mengapa aku tak bergeming sampai aku yakin kereta ku muncul. Mengapa? Aku tahu jawabannya.
Aku tak inginn seperti mereka. Aku tak ingin membuang waktu dengan menaiki sembarang kereta yang aku tahu itu bukan kereta untuk ku. Aku tak ingin melakukan perjalan yang singkat dengan kereta ku. Aku ingin sebuah perjalanan yang menakjubkan. Aku ingin menyusuri perjalanan hanya denngan kereta yang benar-benar ingin aku naiki, aku tak ingin buang waktu dan harus kembali ke stasiun untuk menunggu kereta yang sama dengan tujuan terakhir ku.
“mengapa kau masih disini?”
“aku masih menunggu kereta ku !”
“bukankah banyak kereta yang berhenti untuk mu?”
“bukan, itu bukan untuk ku. Itu hanya kereta-kereta yang takut berjalan tanpa penumpang”
“lalu?”
“aku masih ingin menunggu kereta ku!”
“tapi kau sudah lama disini ? kau buang-buang waktu saja !”
“memang benar ! aku sedang membuang waktu. aku ingin waktu ku terbuang menunggu kereta yang benar-benar tepat untuk ku !bukan terbuang untuk menaiki kereta yang sudah ku tahu itu kereta yang salah”
“hah ! lihat !!. kau sangat keras kepala”
“memang, aku penumpang yang keras kepala”
#kereta pertama(stasiun pertama)
Dan sekarang,,,
Berhenti sebuah kereta di depan ku.
“ahh…itu ! kereta ku tiba !”
Aku langkahkan kaki, mendekati kereta itu.
“hei,, bagaimana kau tahu itu kereta mu?
“entah, aku yakin saja”
Semakin dekat dengan pintu gerbong kereta itu dan kuberanikan kakiku memasuki gerbong-gerbong kereta ku itu.
“ya..ini memang kereta ku. Aku siap melakukan perjalanan yang menakjubkan kereta ku !”
Meski aku yakin aku sudah menaiki kereta yang tepat, tak menutup kemungkinan jika kereta ini akan membawaku pada pemberhentian yang salah.
“hmm, entahlah ! namun aku yakin”
Hanya kalimat itu yang menggaung di pikiran dan hati. Perjalanan ku baru saja aku mulai. Aku takkan tahu apa yang akan aku lewati dengan kereta ini. Mungkin pemandangan indah seperti pegunungan, hamparan rumput bunga, tepi pantai atau justru terowongan sempit dan gelap. Aku tak akan pernah tahu itu. Atau bahkan, aku malah lebih memilih turun di stsiun berikitnya dan menyesali karena telah menaiki kereta yang salah. Karena aku tak ubahnya seperti kawan-kawan ku.
Aku tak pernah tahu. Tak pernah !.
#perjalanan
Aku, mulai berjalan.
Awalnya biasa. Namun, aku merasa perjalanan ini semakin tak biasa. Terima kasih kereta ku. Kau antarkan ku pada tempat-tempat yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Terima kasih.
Aku terus dan terus berharap aku bisa selamanya melakukan perjalanan ini denga kereta ku ini.
Sampai suatu saat pertanyaan ku muncul.
Tuhan, adilkah ini semua?
Aku teramat menyayanginya. Namun, mengapa kau buat dia lakukan hal itu semua padaku?
Tuhan, aku bukan sedang merutuk atau apa. Itu hanya pertanyaan sederhana ku saja.
Aku gila, karena rasa ini.
Aku dan kereta ku harus kembali melewati hutan yang gelap. Saat ini mungkin kami jauh dari cahaya. Namun, setelah hutan gelap dan terowongan panjang ini, aku yakin aku dan kereta ku akan melihat cahaya dan rel. entah harus berhenti di stasiun berikutnya atau melanjutkan perjalanan.
#kereta pertama (stasiun kedua)
“Langit, apa sebetulnya kesalahan ku dulu sebelum aku jadi diriku yang sekarang ini?
Apakah aku seorang wanita jahat dan kejam yang selalu mempermainkan pria-pria? Jika tidak, lantas permainan takdir macam apa ini? Langit, aku teramat jatuh padanya, hingga rasanya sangat sulit untuk bangun dan teramat sakit kala aku menyadarinya.ia tak ada”
Kereta itu membuatku mengambil keputusan untuk turun.
Sejak aku memutuskan untukmelakukan perjalanan besar dengan kereta ku ini, aku hanya melewati perjalanan yang gelap. Hutan, terowongan. Memang tidak selamanya perjalanan kami begitu. Aku pernah berujar bukan, bahwa aku dan kereta ku melakukan perjalanan yang luar biasa. Sayangnya mungkin itu hanya dalam waktu yang singkat.
Lalu apa yang membuat ku turun di stasiun ini?
Benar, mungkin kau benar. Sekarang aku tak ubahnya seperti kawan-kawan ku yang duduk sendiri di stasiun sunyi ini. Alasan kami turun sama saja. Kami telah menaiki kereta yang salah selama ini.
See…?
Begitu banyak hal yang membuatku memutuskan hal ini. Banyak. Benar-benar banyak.
#11 agustus 11
“Masih pantaskah dia, kereta pertama ku rindu?
Rasanya seperti de javu.
Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?
Aku mulai berkhayal kalau semua ini hany mimpi buruk. Mulai berandai kalau sebenarnya semua ini baik-baik saja.
Namun, kenyataannya tak demikian.
Aku rindu (munafik jika aku mengelak).
Namun, apa masih pantas dia aku rindukan?
Orang yang sangat aku limpahi rasa saying dari dulu hingga detik ini, justru sosok yang benar-benar ingin aku lupakan sekarang ini.
Kadang aku benci pada diriku sendiri.
Mengapa aku benar-benar jatuh pada nya?
Mengapa seolah semua rasa yang ku punya sudah ku beri kan pada nya, sehingga tak sedikit pun bersisa?
Mengapa Tuhan?
Hmm…begitu banyak pertanyaan ‘mengapa’ di benakku ini”
“mengapa aku di pertemukan dengan nya dalam keadaan dia yang seperti ini?”
#selamat tinggal kereta pertama
Selamat tinggal kereta pertama ku. Aku memilih kau meninggalkan ku di stasiun hening ini daripada harus melanjutkan perjalananku bersama mu, kereta pertama ku.
Kau tau mengapa?
Yaah, mungkin justru kau yang lebih paham jawabannya.
Tak apa,
Untuk apa disesali. Toh kita pernah sama-sama bahagia dengan perjalanan yang kita lakukan.
Turun daru kereta pertama ku, sekarang aku hanya duduk hening di bangku panjang stsiun sunyi ini. Tapi apa yang ku nanti?
Kereta kedua?
Yaa…kereta kedua, dan aku ingin ini akan jadi kereta terkhir ku.
Aku hanya ingin ada dua hal, layaknya Tuhan yang selalu menciptakan segalanya berpasang-pasang atau berlawanan.
Aku pun sama. Aku hanya ingin ada pertama dan terakhir.
Jika dari kereta pertama ku aku belajar bagaimana merasakan apa itu jatuh dan sakit, maka aku ingin di kereta kedua ku, aku belajar bagaimana aku harus bangkit dan sembuh.
Selamat tinggal kereta pertama ku, selamt dating kereta kedua. Kereta terakhir ku.
#kereta kedua
????

Tidak ada komentar:
Posting Komentar