Minggu, 24 Juni 2012

A I. 사 랑.


Kita lebih kenal dengan kata cinta. Hmm, cinta. Apa si sebenernya cinta? Ada yang bilang cinta itu seperti kentut. Kita gak bisa liat, tapi kita bisa rasain. Ada yang bilang cinta itu mirip rujak. Semua rasa jadi satu, asem, manis, pedes. Seger dimakan pas cuaca panas, tapi bisa jadi racun kalo kita makan kebanyakan. Sama seperti cinta. Semua rasa jadi satu. Cinta bisa jadi seneng, happy, berbunga-bunga tapi juga bisa jadi luka kalo kita terlalu banyak mencintai. Tapi aku bilang cinta itu mirip secangkir kopi. Paling enak diminum pas panas tapi resikonya cepet habis. Atau diminum sedikit-sekidit tapi resikonya keburu dingin dan gak enak. Atau seperti saat menunggu kereta. Kadang kereta kita datang terlambat, terlewat atau bahkan salah naik kereta. Sama seperti cinta, kadang kita melewatkan seseorang yang mungkin benar-benar mencintai kita.
Dua puluh satu tahun aku hidup dua puluh satu tahun pula aku mengenal cinta, merasakan cinta dan memberi cinta. Tapi cinta ini cinta untuk keluarga ku, teman, bahkan sahabat ku. Hanya itu. Bukan dari seorang pria untuk ku, seorang wanita. Memang, tentu saja aku pernah memilki hubungan manis dengan pria-pria selayaknya orang lain, namun dalam suatu jalinan itu aku belum pernah merasa benar-benar dicintai.
hhm, terkadang aku berfikir, apa di dunia ini sudah tidak ada pria yang benar-benar bisa mencintai dan menghargai wanita ? sering aku bertanya pada diriku ‘apakah aku sudah benar-benar mencintai ?’ maka aku menjawabnya sudah. Aku pikir aku sudah mencintai orang yang aku cintai dengan tulus, memberi semua sayang yang sudah semestinya aku beri. Tapi dari apa yang aku dapat ? justru luka. Kita memang tak hanya punya satu luka dalam hidup. Tapi terima kasih atas luka ini, aku belajar tegar, kuat dan lebih mencintai diri ku. dan kebukti, aku bertahan sampi hari ini, bisa melupakan dan belajar mencintai dari awal. Maybe someday, Someone in somewhere, i just haven’t met you yet or....? well, we just don’t know.

Sudahlah, Lupakan soal luka itu. bukankah itu bagian dari hidup ? seperti tuhan yang selalu menciptakan hal yang berlawanan. Siang malam, panas dingin, bulan matahari, pria wanita, maka cinta pun harusnya seperti itu.Cinta dan benci. Benci dan maaf.
Cinta, satu kata yang bisa jadi manis sekali saat kita mendengarnya. Tapi bisa jadi sebaliknya. Asem.
Aku masih ingin menemukan cinta. Belajar mencintai dari awal, walau entah dari mana.[] [사랑]

It’s A Confession of Love.

Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Itu saja.
Mungkin itu pesan yang ingin kau sampaikan pada ku dalam diam mu itu. Atau justru sebaliknya? Entahlah, aku tak pernah tahu. Kau tak pernah menjawab. Memang benar aku tak pernah bertanya, namun apakah aku harus mengatakan kata tanya itu untuk tahu semua yang ada di dalam hati sana?
Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Begitu seterusnya.
Beberapa purnama ini memang aku telah terbiasa pada hidup ku yang lalu. Saat malam-malam ku tak diisi oleh kabar atau celotehan mu. Namun tetap saja aku merasa rindu dan mungkin butuh. Aku pikir waktu dan tugas-tugas itu berhasil membunuh mu dalam benak ku. Memang benar, tapi itu hanya beberapa saat saja. Ingin rasanya berlari menembus waktu. Jika aku bisa, maka aku akan memilih saat itu. saat dimana aku memilki hari-hari aneh tapi lucu itu dan mengatakan aku ingin selamanya seperti ini.
Dekat dengan mu, aku merasa seperti hidup dalam dunia fantasi yang memilki banyak hal tak terduga. Sama dengan mu yang selalu tak terduga. Kadang mengajak ku berjalan pelan, kadang aku harus berlari atau bahkan terbang. 
 
Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Aah shit !!
Sebenarnya Aku tak ingin berlama-lama lagi dengan rasa rindu tak bertuan ini. Maka saat itu pula aku memaksa hati dan bibir ini mengatakan apa yang terjadi pada ku selama beberapa purnama ini. Aku mencoba mengatakan rindu. Aku mencoba mengatakan rasa. Rasa rindu, butuh dan mungkin cinta. Kau boleh tak menjawab ku karena aku memang tak bertanya apapun tentang mu, tapi itu tak berarti kau bisa menganggap ini luconan. Menganggap ini lucu dan bertingkah seolah-olah tak mengerti apapun, justru membuat ku terlihat sangat bodoh di depan mu. Apa kau tahu ini adalah sebuah pengakuan ? Kau tahu ? Aku tak pernah melakukan hal gila seperti ini pada siapapun, tapi kau justru menganggap ini lucu ? Padahal aku hanya ingin kau tau itu. Paling tidak kau tau dan mengerti, hanya itu. Tapi…
Sudahlah. 
 
Teman. Itu saja.
Baiklah jika itu yang kau mau. Dibawah langit-langit malam, Kita dipertemukantuhan oleh takdir-takdir yang sangat cantik, maka aku ingin mengakhirinya dengan cantik pula. Suatu hari nanti jika kau merasa rindu, maka katakan saja. Aku tak akan menganggap itu lucu. Aku tak akan menganggap itu bodoh.
Kau jauh berlari, sama kejamnya dengan waktu yang berlari dan terpaksa membunuh semua rasa ini. Sekarang hanya tinggal diri ku yang harus berbenah hati. Belajar berjalan, berlari bahkan terbang, namun bukan lagi di dunia fantasi yang kau punya itu. Bukan, bukan untuk menggeser mu dari tempat yang dulu, tentu saja kau akan ada di tempat itu seperti biasanya, tempat yang mungkin selalu ingin kau tempati dari dulu sampai kapanpun. Paling tidak itu yang ku tahu selama ini dari diam mu. Tempat yang kau sebut teman.

 
Itu saja []



Minggu, 17 Juni 2012

m i m p i


I’ts about PASSION
Kalo kita ngomongin passion atau sesuatu yang ‘gue’ atau ‘saya’ banget, dari dulu saya ngerasa passion saya ada di bidang seni. Ngalir dari darah seni ayah saya yang seorang seniman (buat saya minimal) saya tumbuh jadi anak yang sebenarnya yaaa...bisa dibilang punya bibit seni mungkin yaa…hehe. Saya ingat betul kebiasaan ayah saya yang selalu membelikan barang-barang yang mengenalkan pada passion saya mulai dari buku gambar, buku mewarnai, pensil warna, crayon, cat air dan masih banyak lagi. Bahkan sampai suatu saat saya merasa sangat tertarik dengan dunia fashion design, ayah saya pula yang pertama kali mengenalkan saya pada sebuah alat mesin jahit antic yang kami punya dirumah, dan orang pertama yang mendukung saat saya menyatakan ingin serius belajar dunia fashion design (waaaau..). well, tapi sayang banget, saat saya mutusin buat ngambil ke tingkat yang lebih serius (kuliah) di bidang ini, ibu dan kakak-kakak saya kurang setuju. Lalu masuklah saya di jurusan Bahasa Prancis.
Sekarang kalau saya ditanya ‘emang nggak nyesel nggak ngambil bidang yang kamu banget?’. Hhaha, sebenarnya, pilihan buat masuk jurusan Bahasa Prancis juga 100% persen keputusan saya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain. Selain bidang seni, saya juga senang belajar bahasa asing karena kita bia belajar kebudayaan orang asing juga lewat bahasa yang kita pelajari.
Hmmm...well, Bakat seni yang saya miliki ini mungkin bukan untuk tingkatan professional, tapi saya yakin kalau hobby saya ini saya latih, yaaa siapa tahu kedepannya. Ya kan, hidup itu kan gak ada yang tahu? :p. walaupun sekarang saya gak kuliah di bidang seni, dan justru nyemplung di Jurusan Bahasa Prancis, paling gak suatu saat saya bisa mengkolaborasikan passion saya dengan bidang yang saya tekuni sekarang ini, misalnya suatu saat saya bisa ke Prancis untuk menggelar fashion show saya, hehe (mimpi dulu boleh dong? J). Moga Malaikat-Malaikat dan Tuhan mendengar cita-cita saya yang setinggi langit ini. Satu lagi, kalau masih di kasih kesempatan, saya mau ‘menekuni’ bidang design lagi (mupeng banget deh) yang dulu sempat tertunda karena harus berjodoh dengan bahasa Prancis dulu. J amiin.