siapapun di sana, .
jemput aku di sini.
Jumat, 31 Mei 2013
Sebatang Pohon
Kusebut
diriku apakah?
Batu?
Nyatanya aku tak sekeras batu. Aku tak setegar batu kala
hujan atau angin menghempas ku.
Air?
Tidak juga.
Aku tak seluwes air. Aku tak pandai menari seindah air
menarikan alirannya.
Atau angin ?
Rasanya aku juga tak mirip dengan angin. Hidup ku tak
selembut desahan sejuknya.
Begini saja,
ku sebut diriku ini Pohon.
Akar yang kekar akan menahan jiwa ku saat hujan atau
angin menghantamku.
Aku ingin menjadi Pohon.
Pohon yang lebih tegar dari batu, Pohon yang bisa
menarikan daunnya seluwes air menarikan alirannya.
Pohon yang bisa membisikkan angin sejuknya.
Pohon yang bisa menjadi payung teduh bagi tanah dimana Ia
tumbuh.
Hanya saja aku masih ragu.
Jika aku sebatang Pohon, maka dimanakah tanah yang harus
ku pijak? Agar akar-akar ku bisa sekokoh batu, tarian daun ku bisa seluwes air dan
mampu mendesahkan angin sejuknya.
Dimanakah?
Di Laut kah?
Atau malah di Gunung?
Jika Pohon ini tumbuh di Laut,
Kupikir anginnya dapat bernyanyi luwes dengan ombak Laut.
Harmoni alam termerdu.
Namun, Pohon hanya dapat tumbuh ditepinya saja. Ia selalu
takut ombak Laut suatu hari tak lagi datang dan tak dapat beryanyi bersama
nyanyian sang Pohon. Meninggalkannya sendiri di tepian pantai.
Sedangkan Gunung?
Hm, ku pikir jika Pohon ditempatkan di Gunung, maka Ia
akan tumbuh teduh.
Gunung selalu merangkulnya erat.
Tapi Gunung selalu membuat Pohon ini merasa kecil, pendek
dan mungkin tak punya arti. Karena Gunung selalu punya banyak tumbuhan selain Pohon.
Membuat Pohon merasa seperti tak dimilki.
‘00:00’
'rumah singgah'
Ada orang-orang yang kita sebut keluarga, mereka yang
memiliki ikatan darah dan daging dalam raga-jiwa kita. Mereka yang selalu
menjadi ‘Rumah’ di manapun kita rindu kata pulang.
Ada orang-orang yang kita sebut teman, mereka yang sering
mengabiskan waktu bersama di manapun kita menginjak tanah untuk sekedar ngopi
bareng, sarapan, atau hal ringan seperti tertawa. Di sekolah, di kampus, bahkan
di kantor.
Ada orang-orang yang kita sebut kekasih. Mereka yang
katanya mau berbagi apapun bersama kita. Mereka yang mengasihi melimpahi kita
cinta sebagai lawan jenis.
Tapi ada orang-orang yang sering kita sebut sahabat. Mereka
tak memilki ikatan darah atau daging apapun dalam raga-jiwa kita. Tapi, bagi (seperti ku) mereka adalah keluarga dan
teman bahkan kekasih. Mereka yang
selalu menjadi ‘rumah singgah’ ketika kita tak bisa pulang ke Rumah kita.
Mereka adalah orang-orang yang berada di baris terdepan saat mendukung kita,
sekaligus orang-orang terdepan yang menentang ketika kita dalam posisi yang
salah. Mereka ada tak sekedar untuk ngopi bareng, sarapan atau tertawa. Saling
mengisi kala jiwa sepi sendiri. Mereka tak enggan hadir dalam duka dan
membaginya. Mereka lebih dari itu. Cinta mereka tak sama dengan cinta seorang
kekasih.
Suka memang tak selalu mengiringi langkah kita, banyak
pula duka yang mampir untuk sekedar menyapa.
Friends + Good
Time = the Best Memories.
Terima kasih telah ada, telah hadir.
Untuk kalian orang-orang yang pantas kusebut sahabat, terima kasih sudah menjadi rumah singgah. Perjalanan masih jauh Friends,
semoga tetap seperti ini, menjadi keluarga, teman dan kekasih.
hidup '=' proses
Dalam hidup, kita tak hanya punya satu luka.
Sudahlah, bukankah hidup itu berproses. Mau tak mau kita
harus berkawan dengan luka, seperti kita mau bercinta dengan suka. Rasanya
enggan, tapi Harus. Dan bukankah proses hidup selalu seperti ini? Cinta
menggoreskan luka, luka melahirkan benci, dan kemudian benci dibasuh kembali dengan
maaf.
Maaf dan benci
Benci dan luka
Luka dan cinta
Selalu menjadi bingkai tangis dan tawa.
Begitulah hidup.
Sebuah proses tiada akhir hingga pada suatu ketika kita
mati dan dimatikan-Nya.
-Faradika-
Rabu, 22 Mei 2013
Gunung dan Laut
Hanya ada dua Cerita yang
ku tuliskan kisahnya. Gunung dan Laut.
Aku suka saja menyebut
mereka begitu. Gunung dan Laut. (seperti
lagu dari Payung Teduh)
Laut.
Mengajari jatuh.
Gunung.
Mengajari bangkit.
Laut.
Mengajari air mata.
Gunung.
Mengajari senyum.
Namun mengapa aku begitu
jatuh pada Laut? semuanya terasa sulit ketika kita harus dihadapkan pada
satu kata “penjelasan”. Laut punya sejarah yang lebih panjang dari pada Gunung. ombaknya selalu merayu, mengajak ku menyelam lebih dalam.
Namun bukan berarti Gunung tak memiliki kisahnya. Dia beda. dari awal sudah begitu. Aku selalu merasa ‘kecil’
dihadapanya, selalu merasa aku bukan siapa-siapa.
Ironisnya, memang benar,
aku bukan siapa-siapa Gunung.
Jumat, 26 April 2013
moo, Ubbay and Aira
bingung mau ngapain. trus saya putuskan ngambil buku gambar [my lovely skecthbook :)], corat coret, finishing pake paint :). voila....
ini doble moooooooo, hheehe..
kalo ini ceritanya dua ponakan saya yang super ganteng dan cantik juga super aktif. hiiihi. Ubbay dan Aira..
Selasa, 23 April 2013
STASIUN TERAKHIR, KERETA TERAKHIR. (karena selanjutnya bukan dengan kereta)
Tau beda prinsip, konsep bahkan jarak (lagi-lagi), tapi masih
maksa aja mau ngejalanin lho..heran deh.
Emang apa yang
hebat dari dia? Apa yang bisa dia lakukan untuk buat saya ketawa lepas ?
bahkan sama film kartun aja kalah. Tapi bisa buat saya kembali, kembali dan
kembali berjalan mundur —mengorek-orek
masa lalu yang sudah berulang kali ingin saya ‘selesaikan’—.
Heran. Bener-bener heran.
Dia cuma bisa nuntut. Dia cuma bisa minta.
Setahu saya, cinta
emang gak ngajarin saya ngemis, karena saya cuma bisa ngasih. Tapi cinta juga
gak ngajarin kamu untuk jadi egois, cuma mikir diri kamu sendiri.
Aku terima semua apa yang ada di diri kamu, termasuk ‘your
dirty secret’. Saya juga gak bilang saya sempurna. Saya ini cuma manusia kecil
yang punya segudang kekurangan. Toh, Kita semua gak ada yang sempurna.
‘Relationship’ harusnya ada karena mereka saling membutuhkan,
ada karena mereka saling ingin memberi yang terbaik untuk satu sama lain. Untuk
mereka yang ingin menjaga kehormatan pasangan.
Itu semua tidak saya temukan dalam diri dia. Dia ngasih
karena dia ingin menerima. Dia baik
karena ada yang dia maui.
Astaga ! rasa apa
ini? Benci? Lega? Marah? kecewa? Atau syukur?
Untuk yang paling terakhir ini, saya minta pada yang Maha
Kasih untuk membuka mata saya dan itu nyata. Tanpa merendahkan siapapun di
sini, tapi saya rasa, saya pantas mendapatkan cinta yang lebih layak dari
sekedar cinta ‘negosiasimu’. Dan selesailah. Saya merasa bersyukur.
Saya gak perlu kok cinta yang menggebu-gebu atau cinta yang
panas, karena apinya bisa membakar kita kapanpun. Saya cuma perlu cinta yang
hangat, cinta yang bisa ngasih saya hidup, cinta yang bisa buat saya merasa
dimiliki, dihargai, disayangi, dilimpahi dan cinta yang bisa membuat saya
mencintai cinta itu sendiri.[]
Hani[]
Langganan:
Postingan (Atom)

