Sabtu, 18 Januari 2014

kisah baru

-         Kini, sudah tak ada lagi kisah tentang si Kereta, si Gunung atau si Laut, yang ada hanya kisah tentang seorang pria di ujung pulau sana yang kini namanya selalu ada dalam setiap ujung do’aku. Pria yang ku tahu berhati hangat dan mempunyai mimpi. Pria yang langsung bisa membuat ku nyaman saat pertama kali bicara dengannya dan akan selalu membuat ku nyaman ketika aku bercerita dengannya. Membagi ceritaku, ceritanya..
Anehnya, aku merasa sudah mengenalnya sejak dulu, dulu sekali. Tuhan, boleh aku minta satu hal? Tolong jaga dia, jaga hatinya.
Nanti, aku tak ingin ada kisah lagi meski ku tahu ini masih teka-teki. 
-Widi-

Minggu, 02 Juni 2013

K O P I

Kopi?
Hitam, berampas, pahit, kesan ‘tua’, pokoknya gak enak.
Begitulah deskripsi saya dulu pada secangkir kopi. Minum kopi berarti sama dengan tua karena kopi biasanya dinikmati oleh ‘embah-embah’. Atau, minum kopi berarti sama dengan ada hal yang harus saya kerjakan (baca: tugas) sampai larut malam hingga saya harus menenggak secangkir kopi demi mata bisa melek sampai pagi.
Tapi, sekarang berbeda. Paradigma saya tentang kopi lambat laun bergeser. Sekarang kopi tak harus berarti hitam, berampas, pahit, kesan ‘tua’ dan gak enak. Deskripsi saya tentang minuman ini sekarang berubah. Kopi itu modern dan memberi saya kesan maskulin. Bukan gaya hidup tinggi (karena kopi yang saya nikmati bukan kopi-kopi yang menawarkan merk dan tempat nongkrong saja) tapi menikmati hidup lebih tinggi dengan satu cangkir kopi. Singkatnya sejuta kata untuk satu cangkir kopi.
Ada dua cara menikmati minuman yang sekarang menjadi salah satu simbol kehidupan kota ini. Pertama, diminum selagi panas namun resikonya akan cepat habis. Atau yang kedua, dinikmati pelan-pelan namun resikonya keburu dingin dan gak enak. See? Mana cara mu? J


-faradika-

Jumat, 31 Mei 2013

n'importe qui

siapapun di sana, .
jemput aku di sini.

Sebatang Pohon

Kusebut diriku apakah?
Batu?
Nyatanya aku tak sekeras batu. Aku tak setegar batu kala hujan atau angin menghempas ku.
Air?
Tidak juga.
Aku tak seluwes air. Aku tak pandai menari seindah air menarikan alirannya.
Atau angin ?
Rasanya aku juga tak mirip dengan angin. Hidup ku tak selembut desahan sejuknya.

Begini saja,
ku sebut diriku ini Pohon.
Akar yang kekar akan menahan jiwa ku saat hujan atau angin menghantamku.
Aku ingin menjadi Pohon.
Pohon yang lebih tegar dari batu, Pohon yang bisa menarikan daunnya seluwes air menarikan alirannya.
Pohon yang bisa membisikkan angin sejuknya.
Pohon yang bisa menjadi payung teduh bagi tanah dimana Ia tumbuh.
Hanya saja aku masih ragu.
Jika aku sebatang Pohon, maka dimanakah tanah yang harus ku pijak? Agar akar-akar ku bisa sekokoh batu, tarian daun ku bisa seluwes air dan mampu mendesahkan angin sejuknya.
Dimanakah?
Di Laut kah?
Atau malah di Gunung?

Jika Pohon ini tumbuh di Laut,
Kupikir anginnya dapat bernyanyi luwes dengan ombak Laut. Harmoni alam termerdu.
Namun, Pohon hanya dapat tumbuh ditepinya saja. Ia selalu takut ombak Laut suatu hari tak lagi datang dan tak dapat beryanyi bersama nyanyian sang Pohon. Meninggalkannya sendiri di tepian pantai.

Sedangkan Gunung?
Hm, ku pikir jika Pohon ditempatkan di Gunung, maka Ia akan tumbuh teduh.
Gunung selalu merangkulnya erat.
Tapi Gunung selalu membuat Pohon ini merasa kecil, pendek dan mungkin tak punya arti. Karena Gunung selalu punya banyak tumbuhan selain Pohon. Membuat Pohon merasa seperti tak dimilki.


‘00:00’


'rumah singgah'

Ada orang-orang yang kita sebut keluarga, mereka yang memiliki ikatan darah dan daging dalam raga-jiwa kita. Mereka yang selalu menjadi ‘Rumah’ di manapun kita rindu kata pulang.
Ada orang-orang yang kita sebut teman, mereka yang sering mengabiskan waktu bersama di manapun kita menginjak tanah untuk sekedar ngopi bareng, sarapan, atau hal ringan seperti tertawa. Di sekolah, di kampus, bahkan di kantor.
Ada orang-orang yang kita sebut kekasih. Mereka yang katanya mau berbagi apapun bersama kita. Mereka yang mengasihi melimpahi kita cinta sebagai lawan jenis.
Tapi ada orang-orang yang sering kita sebut sahabat. Mereka tak memilki ikatan darah atau daging apapun dalam raga-jiwa kita. Tapi, bagi (seperti ku) mereka adalah keluarga dan teman bahkan kekasih. Mereka yang selalu menjadi ‘rumah singgah’ ketika kita tak bisa pulang ke Rumah kita. Mereka adalah orang-orang yang berada di baris terdepan saat mendukung kita, sekaligus orang-orang terdepan yang menentang ketika kita dalam posisi yang salah. Mereka ada tak sekedar untuk ngopi bareng, sarapan atau tertawa. Saling mengisi kala jiwa sepi sendiri. Mereka tak enggan hadir dalam duka dan membaginya. Mereka lebih dari itu. Cinta mereka tak sama dengan cinta seorang kekasih.
Suka memang tak selalu mengiringi langkah kita, banyak pula duka yang mampir untuk sekedar menyapa.
Friends + Good Time = the Best Memories.
Terima kasih telah ada, telah hadir.
Untuk kalian orang-orang yang pantas kusebut sahabat, terima kasih sudah menjadi rumah singgah. Perjalanan masih jauh Friends, semoga tetap seperti ini, menjadi keluarga, teman dan kekasih.


hidup '=' proses

Dalam hidup, kita tak hanya punya satu luka.
Sudahlah, bukankah hidup itu berproses. Mau tak mau kita harus berkawan dengan luka, seperti kita mau bercinta dengan suka. Rasanya enggan, tapi Harus. Dan bukankah proses hidup selalu seperti ini? Cinta menggoreskan luka, luka melahirkan benci, dan kemudian benci dibasuh kembali dengan maaf.
Maaf dan benci
Benci dan luka
Luka dan cinta
Selalu menjadi bingkai tangis dan tawa.
Begitulah hidup.
Sebuah proses tiada akhir hingga pada suatu ketika kita mati dan dimatikan-Nya.


-Faradika-

Rabu, 22 Mei 2013

Gunung dan Laut


Hanya ada dua Cerita yang ku tuliskan kisahnya. Gunung dan Laut.
Aku suka saja menyebut mereka begitu. Gunung dan Laut. (seperti lagu dari Payung Teduh)

Laut.
Mengajari jatuh.

Gunung.
Mengajari bangkit.

Laut.
Mengajari air mata.

Gunung.
Mengajari senyum.

Namun mengapa aku begitu jatuh pada Laut? semuanya terasa sulit ketika kita harus dihadapkan pada satu kata “penjelasan”. Laut punya sejarah yang lebih panjang dari pada Gunung. ombaknya selalu merayu, mengajak ku menyelam lebih dalam.
Namun bukan berarti Gunung tak memiliki kisahnya. Dia beda. dari awal sudah begitu. Aku selalu merasa ‘kecil’ dihadapanya, selalu merasa aku bukan siapa-siapa. 
Ironisnya, memang benar, aku bukan siapa-siapa Gunung.


Jumat, 26 April 2013

moo, Ubbay and Aira

bingung mau ngapain. trus saya putuskan ngambil buku gambar [my lovely skecthbook :)], corat coret, finishing pake paint :). voila....
ini doble moooooooo, hheehe..

kalo ini ceritanya dua ponakan saya yang super ganteng dan cantik juga super aktif. hiiihi. Ubbay dan Aira..

Selasa, 23 April 2013

STASIUN TERAKHIR, KERETA TERAKHIR. (karena selanjutnya bukan dengan kereta)


Tau beda prinsip, konsep bahkan jarak (lagi-lagi), tapi masih maksa aja mau ngejalanin lho..heran deh.
Emang apa yang hebat dari dia? Apa yang bisa dia lakukan untuk buat saya ketawa lepas ? bahkan sama film kartun aja kalah. Tapi bisa buat saya kembali, kembali dan kembali berjalan mundur —mengorek-orek  masa lalu yang sudah berulang kali ingin saya ‘selesaikan’—.
Heran. Bener-bener heran.
Dia cuma bisa nuntut. Dia cuma bisa minta.
Setahu saya, cinta emang gak ngajarin saya ngemis, karena saya cuma bisa ngasih. Tapi cinta juga gak ngajarin kamu untuk jadi egois, cuma mikir diri kamu sendiri.
Aku terima semua apa yang ada di diri kamu, termasuk ‘your dirty secret’. Saya juga gak bilang saya sempurna. Saya ini cuma manusia kecil yang punya segudang kekurangan. Toh, Kita semua gak ada yang sempurna.

‘Relationship’ harusnya ada karena mereka saling membutuhkan, ada karena mereka saling ingin memberi yang terbaik untuk satu sama lain. Untuk mereka yang ingin menjaga kehormatan pasangan.
Itu semua tidak saya temukan dalam diri dia. Dia ngasih karena dia ingin menerima. Dia baik karena ada yang dia maui.
Astaga ! rasa apa ini? Benci? Lega? Marah? kecewa? Atau syukur?
Untuk yang paling terakhir ini, saya minta pada yang Maha Kasih untuk membuka mata saya dan itu nyata. Tanpa merendahkan siapapun di sini, tapi saya rasa, saya pantas mendapatkan cinta yang lebih layak dari sekedar cinta ‘negosiasimu’. Dan selesailah. Saya merasa bersyukur.
Saya gak perlu kok cinta yang menggebu-gebu atau cinta yang panas, karena apinya bisa membakar kita kapanpun. Saya cuma perlu cinta yang hangat, cinta yang bisa ngasih saya hidup, cinta yang bisa buat saya merasa dimiliki, dihargai, disayangi, dilimpahi dan cinta yang bisa membuat saya mencintai cinta itu sendiri.[]

Hani[]

kertas + kain [bekas]

pengen banget bisa bikin baju (sendiri), tapi apa daya...jadi lewat media KERTAS dulu yaaaa......


Selasa, 17 Juli 2012

masih tentang kereta

Tak lama ini, aku menerima sebuah pesan yang kira-kira bunyinya seperti ini :
tulis tentang ku di blog mu…’
Sempat aku merasa bingung apa yang harus aku tulis tentangnya —memang dulu aku pernah menuliskan tentangnta (kereta-red)— Yaaa, mungkin karena aku lama tak melihatnya. begitu aku mencoba menarikan jari-jari ku di atas keyboard laptop ku, maka aku tulis…..
Ini masih tentang satu nama yang dulu sering kusebut. Masih tentang kereta yang singgah di stasiun sepi nan hampa.
Aku lama mengenal satu nama ini, empat huruf saja. Seseorang yang pernah kulimpahi rasa sayang sekaligus menjadi orang yang sangat ingin ku benci (saat itu).
Dia bukan orang yang suka banyak omong, mungkin justru lebih banyak aku.
Dia simple. Diaa…
Haah !!! aku tak tau, aku mengenalnya lama, tapi begitu aku akan memulai menulis tentangnya (lagi), saat itulah aku sadar aku tak mengenal apa-apa tentangnya. Aku merasa selama ini aku hanya mengenalnya seperti orang lain kenal dia. Tapi tak benar-benar kenal. Entahlah, dia banyak diam. Seolah-olah dia tak sudi membagi suka-duka nya padaku. Atau itu hanya perasaan ku saja? Aku tak pernah benar-benar tahu apa yang ada dipikirannya tentang ku. sampai pada suatu saat dia mengajarkan jatuh dan luka pada ku, aku makin sadar akan hal itu.
jika kau ingin aku menuliskan sesuatu tentang mu, maka ceritakan tentang mu. Bagi suka duka mu, karena saat aku menuliskan tulisan ini, aku benar-benar sadar aku tak tahu apa-apa tentang mu. Hhaa, aku bahkan masih terheran-heran dengan jawaban apa yang harus ku beri untuk pertanyaan mu tentang mengapa aku begitu jatuh padamu. Entalah. Mungkin hanya jawaban singkat itu. Aku juga tak tahu pasti mengapa.







Minggu, 24 Juni 2012

A I. 사 랑.


Kita lebih kenal dengan kata cinta. Hmm, cinta. Apa si sebenernya cinta? Ada yang bilang cinta itu seperti kentut. Kita gak bisa liat, tapi kita bisa rasain. Ada yang bilang cinta itu mirip rujak. Semua rasa jadi satu, asem, manis, pedes. Seger dimakan pas cuaca panas, tapi bisa jadi racun kalo kita makan kebanyakan. Sama seperti cinta. Semua rasa jadi satu. Cinta bisa jadi seneng, happy, berbunga-bunga tapi juga bisa jadi luka kalo kita terlalu banyak mencintai. Tapi aku bilang cinta itu mirip secangkir kopi. Paling enak diminum pas panas tapi resikonya cepet habis. Atau diminum sedikit-sekidit tapi resikonya keburu dingin dan gak enak. Atau seperti saat menunggu kereta. Kadang kereta kita datang terlambat, terlewat atau bahkan salah naik kereta. Sama seperti cinta, kadang kita melewatkan seseorang yang mungkin benar-benar mencintai kita.
Dua puluh satu tahun aku hidup dua puluh satu tahun pula aku mengenal cinta, merasakan cinta dan memberi cinta. Tapi cinta ini cinta untuk keluarga ku, teman, bahkan sahabat ku. Hanya itu. Bukan dari seorang pria untuk ku, seorang wanita. Memang, tentu saja aku pernah memilki hubungan manis dengan pria-pria selayaknya orang lain, namun dalam suatu jalinan itu aku belum pernah merasa benar-benar dicintai.
hhm, terkadang aku berfikir, apa di dunia ini sudah tidak ada pria yang benar-benar bisa mencintai dan menghargai wanita ? sering aku bertanya pada diriku ‘apakah aku sudah benar-benar mencintai ?’ maka aku menjawabnya sudah. Aku pikir aku sudah mencintai orang yang aku cintai dengan tulus, memberi semua sayang yang sudah semestinya aku beri. Tapi dari apa yang aku dapat ? justru luka. Kita memang tak hanya punya satu luka dalam hidup. Tapi terima kasih atas luka ini, aku belajar tegar, kuat dan lebih mencintai diri ku. dan kebukti, aku bertahan sampi hari ini, bisa melupakan dan belajar mencintai dari awal. Maybe someday, Someone in somewhere, i just haven’t met you yet or....? well, we just don’t know.

Sudahlah, Lupakan soal luka itu. bukankah itu bagian dari hidup ? seperti tuhan yang selalu menciptakan hal yang berlawanan. Siang malam, panas dingin, bulan matahari, pria wanita, maka cinta pun harusnya seperti itu.Cinta dan benci. Benci dan maaf.
Cinta, satu kata yang bisa jadi manis sekali saat kita mendengarnya. Tapi bisa jadi sebaliknya. Asem.
Aku masih ingin menemukan cinta. Belajar mencintai dari awal, walau entah dari mana.[] [사랑]

It’s A Confession of Love.

Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Itu saja.
Mungkin itu pesan yang ingin kau sampaikan pada ku dalam diam mu itu. Atau justru sebaliknya? Entahlah, aku tak pernah tahu. Kau tak pernah menjawab. Memang benar aku tak pernah bertanya, namun apakah aku harus mengatakan kata tanya itu untuk tahu semua yang ada di dalam hati sana?
Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Begitu seterusnya.
Beberapa purnama ini memang aku telah terbiasa pada hidup ku yang lalu. Saat malam-malam ku tak diisi oleh kabar atau celotehan mu. Namun tetap saja aku merasa rindu dan mungkin butuh. Aku pikir waktu dan tugas-tugas itu berhasil membunuh mu dalam benak ku. Memang benar, tapi itu hanya beberapa saat saja. Ingin rasanya berlari menembus waktu. Jika aku bisa, maka aku akan memilih saat itu. saat dimana aku memilki hari-hari aneh tapi lucu itu dan mengatakan aku ingin selamanya seperti ini.
Dekat dengan mu, aku merasa seperti hidup dalam dunia fantasi yang memilki banyak hal tak terduga. Sama dengan mu yang selalu tak terduga. Kadang mengajak ku berjalan pelan, kadang aku harus berlari atau bahkan terbang. 
 
Teman mungkin selamanya akan tetap menjadi teman. Aah shit !!
Sebenarnya Aku tak ingin berlama-lama lagi dengan rasa rindu tak bertuan ini. Maka saat itu pula aku memaksa hati dan bibir ini mengatakan apa yang terjadi pada ku selama beberapa purnama ini. Aku mencoba mengatakan rindu. Aku mencoba mengatakan rasa. Rasa rindu, butuh dan mungkin cinta. Kau boleh tak menjawab ku karena aku memang tak bertanya apapun tentang mu, tapi itu tak berarti kau bisa menganggap ini luconan. Menganggap ini lucu dan bertingkah seolah-olah tak mengerti apapun, justru membuat ku terlihat sangat bodoh di depan mu. Apa kau tahu ini adalah sebuah pengakuan ? Kau tahu ? Aku tak pernah melakukan hal gila seperti ini pada siapapun, tapi kau justru menganggap ini lucu ? Padahal aku hanya ingin kau tau itu. Paling tidak kau tau dan mengerti, hanya itu. Tapi…
Sudahlah. 
 
Teman. Itu saja.
Baiklah jika itu yang kau mau. Dibawah langit-langit malam, Kita dipertemukantuhan oleh takdir-takdir yang sangat cantik, maka aku ingin mengakhirinya dengan cantik pula. Suatu hari nanti jika kau merasa rindu, maka katakan saja. Aku tak akan menganggap itu lucu. Aku tak akan menganggap itu bodoh.
Kau jauh berlari, sama kejamnya dengan waktu yang berlari dan terpaksa membunuh semua rasa ini. Sekarang hanya tinggal diri ku yang harus berbenah hati. Belajar berjalan, berlari bahkan terbang, namun bukan lagi di dunia fantasi yang kau punya itu. Bukan, bukan untuk menggeser mu dari tempat yang dulu, tentu saja kau akan ada di tempat itu seperti biasanya, tempat yang mungkin selalu ingin kau tempati dari dulu sampai kapanpun. Paling tidak itu yang ku tahu selama ini dari diam mu. Tempat yang kau sebut teman.

 
Itu saja []



Minggu, 17 Juni 2012

m i m p i


I’ts about PASSION
Kalo kita ngomongin passion atau sesuatu yang ‘gue’ atau ‘saya’ banget, dari dulu saya ngerasa passion saya ada di bidang seni. Ngalir dari darah seni ayah saya yang seorang seniman (buat saya minimal) saya tumbuh jadi anak yang sebenarnya yaaa...bisa dibilang punya bibit seni mungkin yaa…hehe. Saya ingat betul kebiasaan ayah saya yang selalu membelikan barang-barang yang mengenalkan pada passion saya mulai dari buku gambar, buku mewarnai, pensil warna, crayon, cat air dan masih banyak lagi. Bahkan sampai suatu saat saya merasa sangat tertarik dengan dunia fashion design, ayah saya pula yang pertama kali mengenalkan saya pada sebuah alat mesin jahit antic yang kami punya dirumah, dan orang pertama yang mendukung saat saya menyatakan ingin serius belajar dunia fashion design (waaaau..). well, tapi sayang banget, saat saya mutusin buat ngambil ke tingkat yang lebih serius (kuliah) di bidang ini, ibu dan kakak-kakak saya kurang setuju. Lalu masuklah saya di jurusan Bahasa Prancis.
Sekarang kalau saya ditanya ‘emang nggak nyesel nggak ngambil bidang yang kamu banget?’. Hhaha, sebenarnya, pilihan buat masuk jurusan Bahasa Prancis juga 100% persen keputusan saya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain. Selain bidang seni, saya juga senang belajar bahasa asing karena kita bia belajar kebudayaan orang asing juga lewat bahasa yang kita pelajari.
Hmmm...well, Bakat seni yang saya miliki ini mungkin bukan untuk tingkatan professional, tapi saya yakin kalau hobby saya ini saya latih, yaaa siapa tahu kedepannya. Ya kan, hidup itu kan gak ada yang tahu? :p. walaupun sekarang saya gak kuliah di bidang seni, dan justru nyemplung di Jurusan Bahasa Prancis, paling gak suatu saat saya bisa mengkolaborasikan passion saya dengan bidang yang saya tekuni sekarang ini, misalnya suatu saat saya bisa ke Prancis untuk menggelar fashion show saya, hehe (mimpi dulu boleh dong? J). Moga Malaikat-Malaikat dan Tuhan mendengar cita-cita saya yang setinggi langit ini. Satu lagi, kalau masih di kasih kesempatan, saya mau ‘menekuni’ bidang design lagi (mupeng banget deh) yang dulu sempat tertunda karena harus berjodoh dengan bahasa Prancis dulu. J amiin.

Jumat, 13 April 2012

UNTUK MU, seluruh nafas ini

Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita

Di saat ku tertatih tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini

Kita telah lewati rasa yang pernah mati
Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku

Di saat ku tertatih tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti demi keyakinan ini

Jika memang kau terlahir hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini

Dan ini yang terakhir
Ini yang terakhir 
Tak kan ku sia-siakan hidupmu lagi
Ini yang terakhir, dan ini yang terakhir
Tak kan ku sia-siakan hidupmu lagi

Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini

Jika memang kau terlahir hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini

t o i !!

Dia tak seperti kereta pertama ku, yang bisa membuat dada ku bergetar saat pertama aku mengenalnya. Dia tak begitu. Dia tak mampu seperti itu. Rasa ini muncul perlahan, semakin hari semakin besar. Tapi ketika aku sadar bahwa kau tak ingin mencampur adukan persahabatan kita dengan unsur yang ku sebut ‘cinta’ ini, aku sadar pula aku telah mencintai seseorang dengan tulus.

Maret 8, 2012.



Tuhan, benarkah jalan yang telah ku pilih ini ? aku tak mengerti. Yang jelas ini sebuah bukti yang sangat kuyakini. Disaat kereta pertama ku datang menjemput ku, aku bukannya bergegas menghampirinya dan pergi dari tempat sialan ini, namun mengapa aku ingin tetap tinggal di stasiun hampa ini?
Harusnya Kau lah yang paling bisa menegrti apa yang di pendam hamba-Mu ini. Bukan kereta pertama ku itu yang sebenarnya sedang aku tunggu, namun kereta yang lain. Kereta yang pernah membawa ku ke dunia yang jauh dari pikiranku. Dunia yang tak pernah di tunjukan kereta pertama. Saat ini aku benar-benar merindukannya. Waktu memang serasa berlari. Berlari meninggalkan cerita lama. Tak terasa sudah lebih setengah tahun ini.  .Ia meninggalkan ku di stasiun sialan ini tanpa satu alasan pun, Si kereta antik.
Harusnya aku tak memikirkannya lagi, seperti janji ku. Namun, lagi-lagi aku melanggarnya.
Mungkin ada kata-kata yang perlu ditegaskan disini, yaitu Aku Benar-Benar Rindu. .
Oh shit !!! perasaan apa lagi ini !! mengapa datang lagi dan menyiksa lagi. Saat ini aku ingin berlari, dan mengatakan padanya.
Tuhan, beri satu kesempatan satu kali pada ku, sebagai jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan mengganggu ini, dan tunjukanlah pada ku. Yang jelas, ini buktri aku sudah tak mengaharap kereta pertama. Dan maaf untuk kereta pertama ku.

‘ bila nanti aku kehilangan
Mungkin itu hanya sesaat
                                                                   Karena ku yakin kita kan bertemu lagi……’
^gembel^

Kamis, 05 Januari 2012

blackforestrasacoro

Kalo ga salah dulu gue pernah nulis gini:

“Banyak tempat yang pernah didatengi. Jalan dan tempat-tempat itu.
Mungkin besok, lusa, atau kelak..tempat-tempat inilah yang bakal jadi mesin waktu buat gue.
Mungkin sekarang gue senyum, ketawa, seneng,
Tapi ga tau ‘suatu saat’ nanti apa masih sama. Atau justru sebaliknya. Gue gak pernah tau. Sama sekali gak pernah tau. “

Mesin waktu. Sekarang gue tau, yang terjadi cuma sebaliknya. Setiap gue datengin ataupun cuma lewat tempat-tempat yang gue bilang bisa jadi mesin waktu buat gue, yang ada cuma rasa nyesek. Sekarang mungkin gue udah tiba di “suatu saat” yang dulu gue maksud. Dan apa yang gue liat sekarang, ga sewarna-warni dulu. Cuma abu-abu.  Makasih buat semua , mungkin emang lo ga mau hubungan ‘teman’ kita di campuri bumbu-bumbu ga jelas yang sering gue sebut cinta. Mungkin cuma sayang, itupun cuma sebagai teman. Tapi ga apalah, bukankah rasa sayang sayang jauh lebuh awet daripada rasa cinta…? iya kan?
Tapi satu hal yang harus lo tau,  semua hal yang pernah gue lewati bareng lo, itu adalah hal yang gak akan pernah gue lupain.


-blackforestrasacoro-
27desember2011

Rabu, 09 November 2011

Selamat pagi dunia, perkenankan…



Hai, gue Hani. Nama lengkap gue Hani Faradika, tapi orang-orang lebih milih manggil gue dengan panggilan-panggilan aneh kaya Yaya (yang dari mana asalnya, gue juga ga tau), Mbel alias Gembel (emeng gue keliatan kaya gembel?), Nyet (gue inget banget muka temen gue kalo lagi manggil gue “nyet !!”) hahaha…..ga papa gue dipanggil kaya gitu, itu artinya mereka care dan sayang sama gue (wiiidiiiiiw GR). Hehehe…
Gue mahasiswi semester lima di salah satu universitas negeri terkenal di Jogja (terbukti dari ribuan calon mahasiswa mendaftar di sana tiap tahunnya, dan ribuan juga yang harus kecewa karena ditolak. Haha..). gue ngambil studi bahasa Prancis yang sebenernya bukan prioritas gue dulu waktu milih program studi. Gue lebih tertarik masuk seni rupa atau sastra inggris, tapi apa boleh buat, nasib gue harus nyebur ke bahasa Prancis, yang itu artinya gue salah jurusan selama ini. hiiiikz L. Tapi itu udah jadi resiko gue dan gue mau ga mau emang harus ngadepinnya. Cemunguudh ! (kok jadi alay?).
Gue berdarah jawa murni. Gue lahir di kota Banjarnegara, kota kecil (kecil banget) yang terkenal sama minumannya yang khas, dawet ayu. Tujuh belas tahun gue hidup di sana, sebelum akhirnya gue putusin buat merantau demi menimba ilmu pengetahuan (haha..lebay) di Jogja. Sekarang gue masih tinggal di rumah kecil, sama orang tua gue (pastinya) dan sama salah satu kakak cewek gue yang sama begonya kaya gue karena sama-sama pernah jatuh (????), namanya Vian (pisss mba J ). Karena dibanding kakak perempuan gue yang pertama, Ika, kita tu jauh banget. Hahaaa….. Masa kecil gue meneyenangkan. Gue dulu paling suka main bikin rumah-rumahan alias “gawe gubug” sama temen-temen gue. Waktu kecil dulu gue pernah ngalamin kejadian tak menyenangkan, yaitu jatuh di kamar mandi dan gak ketahuan sama orang-orang rumah. Gue yakin banget ini yang menyebabkan otak gue rada miring dikit, hahaha…(itu diagnosis gue aja sii).
Gue manusia biasa, kaya kebanyakan cewek di luar sana. Hidup Gue bahagia. Gue happy. Gue enjoy banget sama hidup gue sekarang. Punya keluarga (Alhamdulillah yaaa masih punya), temen-temen yang selalu ngedukung gue terus, dan orang special, mantan orang orang special atau calon orang special yang selalu dan selau bisa bikin gue ketawa ngakak bareng, hmmm… J. Gue seneng karena seenggaknya gue bukan mahasiswa biasa. Gue suka bersosialisai, Gue jadi punya banyak temen, dan yang penting gue bukan mahasiswa yang isinya cuma ngampus, kost, café, mall, atau tempat karaoke doank. (Yaaa…kadang-kadang gitu juga sii, buat refresh J hehe…)
Gue aneh (masa sii ?). haha… gue punya alergi yang sedikit kurang wajar (bukan kurang ajar). Gue alergi sama yang namanya olah raga. Setiap gue lari dengan kecepatan yang gak konstan, pasti badan gue langsung gatel-gatel. Dan berhubung semua olah raga ada unsur larinya, gue jadi ga doyan olah raga. Tapi gue pernah pacaran sama anak olah raga (yang gue gak ngerti apa maksud Tuhan dari semua ini, emang ada hubunganya ya Tuhan? Hehe..). tapi gue suka banget renang. Karena itu Cuma satu-satunya olah raga yang gak bikin gue gatel-gatel. Hehe.. gue suka nyanyi (suka banget) tapi gak di panggung, kelas gue paling Cuma kamar mandi sama karokean doank, haha…
Layaknya manusia biasa yang punya banyak kekurangan. Banyak hal yang gak bisa gue lakuin. Gue gak bisa masak, gak bisa nabung, gak bisa ini gak bisa itu…daaan, gak bisa ketawa sendiri (iya laaaahh, ntar disangkain orang gila lagi :p).
Gue tertarik banget sama yang namanya seni, entah cuma liat ataupun denger doank. Gue seneng gambar, corat-coret, dan sebenernya gue suka nulis, tapi kadang males.. (hheeee).
Apapun kekurangan dan kelebihan gue, udah sepatutnya gue ngehargain diri gue sendiri, karena kalo bukan gue sapa lagi? Karena gue hani.

*penutupnya agak gak nyambung sii…. :p

kereta-kereta itu..

Kereta-Kereta Ku

#penantian
“apa selama ini kau tahu?”
“apa selama 5 tahun belakangan ini kau pernah menyadarinya?”

Lima tahun, bukankah waktu yang lama untuk sebuah penantian? Bukankah ini layaknya seperti sebuah perjalanan hidup? Disaat kawan-kawan ku sudah mulai menemukan kereta mereka, aku justru masih duduk sendiri menanti sepi di stasiun ini. Aku sadar, banyak dari mereka menaiki kereta yang salah, namun mengapa mereka mesti memaksa? Sedang aku? Mengapa justru memilih menanti kereta yang tepat itu? Meski tak tahu seberapa pasti arti ‘tepat’ itu sendiri.

Kereta-kereta
Banyak kereta yang berhenti di stasiun itu. Mengapa tak ada satupun kereta yang ingin ku naiki? bukankah aku bisa seperti kawan-kawan ku yang gampang saja naik sembarang kereta meski tahu itu salah? Tapi mengapa kakiku tak juga bergerak ke gerbong? Mengapa aku tak bergeming sampai aku yakin kereta ku muncul. Mengapa? Aku tahu jawabannya.

Aku tak inginn seperti mereka. Aku tak ingin membuang waktu dengan menaiki sembarang kereta yang aku tahu itu bukan kereta untuk ku. Aku tak ingin melakukan perjalan yang singkat dengan kereta ku. Aku ingin sebuah perjalanan yang menakjubkan. Aku ingin menyusuri perjalanan hanya denngan kereta yang benar-benar  ingin aku naiki, aku tak ingin buang waktu dan harus kembali ke stasiun untuk menunggu kereta yang sama dengan tujuan terakhir ku.

“mengapa kau masih disini?”
“aku masih menunggu kereta ku !”
“bukankah banyak kereta yang berhenti untuk mu?”
“bukan, itu bukan untuk ku. Itu hanya kereta-kereta yang takut berjalan tanpa penumpang”
“lalu?”
“aku masih ingin menunggu kereta ku!”
“tapi kau sudah lama disini ? kau buang-buang waktu saja !”
“memang benar ! aku sedang membuang waktu. aku ingin waktu ku terbuang menunggu kereta yang benar-benar tepat untuk  ku !bukan terbuang untuk menaiki kereta yang sudah ku tahu itu kereta yang salah”
“hah ! lihat !!. kau sangat keras kepala”
“memang, aku penumpang yang keras kepala”


#kereta pertama(stasiun pertama)

Dan sekarang,,,
Berhenti sebuah kereta di depan ku.
“ahh…itu ! kereta ku tiba !”
Aku langkahkan kaki, mendekati kereta itu.
“hei,, bagaimana kau tahu itu kereta mu?
“entah, aku yakin saja”
Semakin dekat dengan pintu gerbong kereta itu dan kuberanikan kakiku memasuki gerbong-gerbong kereta ku itu.
“ya..ini memang kereta ku. Aku siap melakukan perjalanan yang menakjubkan kereta ku !”

Meski aku yakin aku sudah menaiki kereta yang tepat, tak menutup kemungkinan jika kereta ini akan membawaku pada pemberhentian yang salah.
“hmm, entahlah ! namun aku yakin”
Hanya kalimat itu yang menggaung di pikiran dan hati. Perjalanan ku baru saja aku mulai. Aku takkan tahu apa yang akan aku lewati dengan kereta ini. Mungkin pemandangan indah seperti pegunungan, hamparan rumput bunga, tepi pantai atau justru terowongan sempit dan gelap. Aku tak akan pernah tahu itu. Atau bahkan, aku malah lebih memilih turun di stsiun berikitnya dan menyesali karena telah menaiki kereta yang salah. Karena aku tak ubahnya seperti kawan-kawan ku.

Aku tak pernah tahu. Tak pernah !.


#perjalanan

Aku, mulai berjalan.
Awalnya biasa. Namun, aku merasa perjalanan ini semakin tak biasa. Terima kasih kereta ku. Kau antarkan ku pada tempat-tempat yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Terima kasih.
Aku terus dan terus berharap aku bisa selamanya melakukan perjalanan ini denga kereta ku ini.

Sampai suatu saat pertanyaan ku muncul.

Tuhan, adilkah ini semua?
Aku teramat menyayanginya. Namun, mengapa kau buat dia lakukan hal itu semua padaku?
Tuhan, aku bukan sedang merutuk atau apa. Itu hanya pertanyaan sederhana ku saja.
Aku gila, karena rasa ini.

Aku dan kereta ku harus kembali melewati hutan yang gelap. Saat ini mungkin kami jauh dari cahaya. Namun, setelah hutan gelap dan terowongan panjang ini, aku yakin aku dan kereta ku akan melihat cahaya dan rel. entah harus berhenti di stasiun berikutnya atau melanjutkan perjalanan.


#kereta pertama (stasiun kedua)

“Langit, apa sebetulnya kesalahan ku dulu sebelum aku jadi diriku yang sekarang ini?
Apakah aku seorang wanita jahat dan kejam yang selalu mempermainkan pria-pria? Jika tidak, lantas permainan takdir macam apa ini? Langit, aku teramat jatuh padanya, hingga rasanya sangat sulit untuk bangun dan teramat sakit kala aku menyadarinya.ia tak ada”

Kereta itu membuatku mengambil keputusan untuk turun.
Sejak aku memutuskan untukmelakukan perjalanan besar dengan kereta ku ini, aku hanya melewati perjalanan yang gelap. Hutan, terowongan. Memang tidak selamanya perjalanan kami begitu. Aku pernah berujar bukan, bahwa aku dan kereta ku melakukan perjalanan yang luar biasa. Sayangnya mungkin itu hanya dalam waktu yang singkat.
Lalu apa yang membuat ku turun di stasiun ini?
Benar, mungkin kau benar. Sekarang aku tak ubahnya seperti kawan-kawan ku yang duduk sendiri di stasiun sunyi ini. Alasan kami turun sama saja. Kami telah menaiki kereta yang salah selama ini.
See…?
Begitu banyak hal yang membuatku memutuskan hal ini. Banyak. Benar-benar banyak.


#11 agustus 11

“Masih pantaskah dia, kereta pertama ku rindu?
Rasanya seperti de javu.
Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?
 Aku mulai berkhayal kalau semua ini hany mimpi buruk. Mulai berandai kalau sebenarnya semua ini baik-baik saja.
Namun, kenyataannya tak demikian.
Aku rindu (munafik jika aku mengelak).
Namun, apa masih pantas dia aku rindukan?
Orang yang sangat aku limpahi rasa saying dari dulu hingga detik ini, justru sosok yang benar-benar ingin aku lupakan sekarang ini.

Kadang aku benci pada diriku sendiri.
Mengapa aku benar-benar jatuh pada nya?
Mengapa seolah semua rasa yang ku punya sudah ku beri kan pada nya, sehingga tak sedikit pun bersisa?
Mengapa Tuhan?
Hmm…begitu banyak pertanyaan ‘mengapa’ di benakku ini”

“mengapa aku di pertemukan dengan nya dalam keadaan dia yang seperti ini?”




#selamat tinggal kereta pertama

Selamat tinggal kereta pertama ku. Aku memilih kau meninggalkan ku di stasiun hening ini daripada harus melanjutkan perjalananku bersama mu, kereta pertama ku.
Kau tau mengapa?
Yaah, mungkin justru kau yang lebih paham jawabannya.

Tak apa,
Untuk apa disesali. Toh kita pernah sama-sama bahagia dengan perjalanan yang kita lakukan.

Turun daru kereta pertama ku, sekarang aku hanya duduk hening di bangku panjang stsiun sunyi ini. Tapi apa yang ku nanti?
Kereta kedua?
Yaa…kereta kedua, dan aku ingin ini akan jadi kereta terkhir ku.
Aku hanya ingin ada dua hal, layaknya Tuhan yang selalu menciptakan segalanya berpasang-pasang atau berlawanan.
Aku pun sama. Aku hanya ingin ada pertama dan terakhir.
Jika dari kereta pertama ku aku belajar bagaimana merasakan apa itu jatuh dan sakit, maka aku ingin di kereta kedua ku, aku belajar bagaimana aku harus bangkit dan sembuh.

Selamat tinggal kereta pertama ku, selamt dating kereta kedua. Kereta terakhir ku.


#kereta kedua
????